Friday, 15 February 2019

Membeli Kebahagiaan di Idolmart Dijamin Tidak Mahal Sama Sekali

Hallo, Gorgeus!

Kali ini aku mau sedikit cerita mengenai kebahagiaan amat sangat sederhana. Yaitu pengalaman ketika membeli beberapa barang di Idolmart. Bagi yang belum tau apa itu, Idolmart adalah toko yang menyediakan aneka mainan anak, boneka, pakaian dan perlengkapan bayi, perabotan, alat tulis, dan lain sebagainya.

Karena waktu itu aku datang menjelang 14 Februari, di sana lagi ada promo khusus. Yaitu pembelian boneka beruang pink lope-lope plus bunga mawar dibanderol Rp.18.000. Wow! Tapi aku nggak beli lah, itu bukan tujuanku datang ke toko ini.


bagian depan toko juga penuh barang-barang
Nah, ketika masuk aku langsung ke rak bagian paling belakang untuk nyari boneka karena di sanalah tempatnya. Bareng dong sama ananda supaya dia pilih sendiri boneka yang dia suka. Tujuanku memang cuma mau beli boneka sama singlet L buat ananda karena singlet dia yang M, udah pendek gitu apalagi perutnya kayak perut ayah, ups!




rak bagian dalam toko
Nah, ternyata singlet ukuran L itu ada di tumpukan bawah dan kecampur-campur sama yang ukuran S dan M jadi agak lama. Selama aku milih-milih ananda jalan-jalan di situ kepo. Megang-megang sampo bayi, sabun bayi, apa aja dipegang. Tapi dia gak berantakin dong, ananda Alhamdulillah kalem orangnya. Ambil taruh lagi, gitu, tapi ya memang nggak bisa rapi seperti sedia kala. Namanya juga anak-anak yakan.



gelas 600an ml

Selain itu aku tertarik untuk punya gelas lagi. Jadilah aku beli gelas satu. Biasanya aku beli gelas di sini satuan gitu, enak jadinya sesuai kebutuhan aja. Botol minum juga murah.

yang lebih kecil
Eh, tapi ternyata beli satu gratis satu gelasnya. Jadi pas dikasir suruh ambil satu lagi ukuran apa aja bebassss. Hasyeeeek. Siapa sih yang nggak suka gratis, soalnya di toko lain gelas ini harganya 24ribuh.



payung lipat
Terus ketika lagi ngantri di kasir liat-liat ada payung lipat. Kebetulan belum punya karena nyari murah. Dan angkutlah satu. Hehe. Boneka bola dapet, payung, singlet, gelas, okelah cukup aja. Terus ya mau nggak mau tetep terkejut sih ketika bayar belanjaan, totalnya nggak ada 100ribuh.

Jadi gelas harganya sekitar 21.000 dapat 2.
Boneka bola harganya 21.000
Singlet sekitar 5000an
Payung harganya sekitar 35.000

Total belanja Rp.98.500. Pas bawa recehan gopean jadi kembali duaribu. Alhamdulillah....

Apa? Parkir? Hahaha, nggaklah. Kebetulan tukang parkirnya sama-sama MAMEN (Sama-sama orang Kebumen) jadi ya gratis ajalah.



bola pilihan ananda

Sebenarnya di dalam ada produk kecantikan juga tapi aku lagi nggak ingin beli apa-apa. Jadi ya udahlah, ini aja aku udah bahagia. Karena seandainya beli di tempat lain bisa jadi seratus ribuh nggak cukup. Eaaaa.....


Sederhana banget deh. Kira-kira, apa hal sederhana yang membuatmu bahagia? Share yuk!

Tuesday, 12 February 2019

Kesalahan-kesalahan Terbesar Dalam Hidupku



Kesalahan-kesalahan Terbesar Dalam Hidupku



Sebagai manusia aku tidak pernah luput dari salah dan dosa. Ya itu jelas. Apalagi ketika usia muda, yang menurutku masih asing dengan diri sendiri. Nah, di usia inilah aku banyak sekali melakukan kesalahan-kesalahan besar yang diantaranya juga berakibat fatal bagi kehidupanku sekarang.

Aku tidak berniat untuk membuka aib dan luka lama, kalau Allah saja masih menutup aibku, buat apa malah aku sendiri yang membuka tabirnya? Hanya saja aku menulis ini sebagai pengingat diri saat ini dan di kemudian hari bahwa aku bukan manusia sempurna sama sekali. Jauh dari itu.

Dan juga iniloh sebabnya aku begini sekarang. 

1. Putus Sekolah

Ini akan menjadi hal yang paling bodoh yang pernah aku lakukan. Sudaj tahu bodoh malah minggat dari sekolah. Memang ya saat sekarang tidak punya gelar pun pasti bisa jadi orang sukses. Merangkak dar bawah. Tapi andainya misalkan ada basic pendidikan pasti bisalah lebih baik. Entah dari segi pola pikir, cara menghadapi tekanan, mudah diterima bekerja, dan lainsebagainyaaaaa.

Jadi ceritanya dulu, ketika lulus SMK aku masih nggak punya tujuan. Jangan harap kayak orang lain yang punya kerabat suportif, aku benar-benar sendirian waktu itu. Karena hubungan dengan ayahku pun lagi buruk.

Ayahku sendiri tidak tau menau banyak hal. Jadilah aku hanya bisa bergantung pada pihak sekolah yang sebenarnya kurang bisa diandalkan. Habis waktu, ongkos dan tenaga ke sana ke sini untuk menyiapkan persyaratan lamaran kerja. Ikut-ikut tes di sekolah lain. Hasilnya nihil.

Nunggu info dari teman yang sudah ada di Cikarang, aduhai, malah beberapa teman ada yang tertupi. Jadilah aku pemudi yang hilang arah dan gak gitu guna. Sampai pada suatu ketika, aku kenalan sama EO Owner dan mulailah aku ikut-ikut kerja sama dia jadi tukang ipen.

Nah, di tukang ipen ini aku pura-puranya jadi sekretaris sekaligus pembantu umum. Jadi di basecamp aku bertugas nyatet, ikut musyawarah dan ikut nyiapin konsumsi buat kita juga buat para official (kebetulan ipen pertandingan bola) ketika teknikal miting, ina-inu, lalala, sampai pembubaran panityaaaa. 

Cie, yang punya kegiatan.... Hahaha.

Nah, setelah event terselenggara dengan sukses aku kan masih berteman sama mereka, terus diajaknya aku kuliah wiken. Itu semua terjadi di sekitar tahun 2009. Awalnya rencana menuntut ilmu itu ditentang oleh ayah tapi akukan ngeyel dan keras kepala (pantes sering sakit perut.) Jadi aku tetep maju meskipun tanpa dukungan ayah. And the best part is, ayah diem-diem ngasih uang buatku transpor dan makan melalui ibu. Hiks huaaaa....

Di tengah-tengah awal belajar dan adaptasi yang sulit itulah, ada pembukaan pabrik baru di daerahku. Jadi aku nglamarlah di situ dengan pertimbangan kuliah cuma wiken, wikdeis bisa buat ngumpulin sangu yakan. 

Tapi kenyataannya nggak semudah itu Ferguso. Terkadang aku jadi bolos gara-gara jam lembur di pabrik. Yang mana jarak antara pabrik ke kampus itu sekitar dua jam naik motor. Aku ngejar-ngejar pelajaran jadinya Hayati lelah lahir batin. Jadi ada yang perlu dikorbanin nih, pilih salah satu aja, sekola apa cari duit?

Karena aku termasuk bukan mental baja, manja, kolokan, jelek, bodoh, songong, jadi aku milih cari duit dan jadi anak putus sekolah tepat setelah ujian semester pertama. Pada akhirnya, sekarang aku sadar dan tau bahwa sekola itu penting banget untuk menjadikan aku lebih manusia di mata manusia.

Sedih kalau inget masa lalu. Apalagi saat ini yang akunya cuma ibu-ibu yang kelihatan selow, untuk merasa baik-baik saja harus berapa kali kutanamkan dalam diri bahwa Allah-lah sebaik-baik juri sementara manusia kerap merendahkan? Ya kadang aku tetep kebawa baper aja gitu. You know what I mean.

2. Kehabisan ASI

Kehabisan ASI adalah hal tergoblok yang pernah aku lakukan. Ya, karena kebaperan itulah salah satu penyebabnya. Aku mudah terluka dan sakit hati, tapi pada saat yang bersamaan nggak punya niat untuk membenci. 

Aku tetap menaruh hormat pada siapa saja yang perlu nggak peduli ada dari ucapan mereka yang bikin aku sesak napas. Apalagi setelah menikah dan punya bayi. Banyak silet-silet yang masuk lewat kuping dan menyayat jantungku.

Misalnya ketika aku dibandingkan dengan ibu-ibu bekerja karena memberikan susu bubuk pada bayi. Ketika aku dianggap orang nggak bekerja, nggak berpenghasilan, ketika diaper jadi masalah, bayi sakit jadi aku yang salah. Semua hal yang bikin sakit itu jadi pikiran dan wasalam usia bayi lima bulan ASI-ku kering kerontang!

Sampai saat ini, bahkan anakku lupa bagaimana dia dulu menyusu. Dia lebih kenal botol dot. Kadang-kadang aku berpikir jahat begini, "Orang kayak aku, yang uangnya pas-pasan nggak usah diajarin juga tau ASI itu terbaik dan kalau ada malah lumayan uang susu bubuknya bisa buat kebutuhan lain."

Terus, sebenarnya dulu aku juga berusaha untuk terus bisa ngASI. Bukan pembenaran sih, tapi ya memang gitu. Saran-saran dan masukan dari yang lebih pengalaman aku terima. Tapi mungkin karena memang sedikit air susunya atau memang karena baperan itu. Ingat juga waktu masih ada, aku pernah pompa dan dapat 30ml, terus habis.

Apa memang air susunya terbatas. Okelah gak sah cari pembenaran. Yang penting anaknya sehat dan solih, InysaAllah..

Sebenarnya aku mau ngulas-ngulas produk kok malah jadi ngulas diri aku sendiri kayak gini ya... hahaha. 

3. Marahan sama Ayah

Lah ini fatal banget! Balik ke masa muda lagi, waktu itu aku udah kerja di pabrik selama kurang lebih dua tahunan gitulah. Dan aku mulai jenuh. Tapi kerjaan di pabrik udah nggak seberat sebelumnya karena aku sudah bukan jadi tukang produksi tapi penunjangnya.

Upahnya juga sudah bisalah buat sangu, beli sabun dan baju, bisa kredit motor. Suatu ketika ada hal yang bikin aku seteru sama ayah aku sendiri lupa ap sebabnya. Setelah seteru itu aku pergi entah berapa lama, nggak tinggal di rumah. 

Pada waktu itu ayah pun nggak cari. Emang sama-sama bebal. Tapi harusnya yang muda ngalah dong ya. Aku stress berat saat itu sampai tiga bulan aku nggak kedatangan tamu. Bayangin aja, usia 19-20an nggak haid selama 3 bulan. 

Ya, aku takut juga kan jadinya. Takut ada penyakit. Tapi setelah lebih dewasa aku tau itu karena beban pikiran. Lalu cerita ini ada damainya? Sayangnya nggak. Ketika itu aku ngerasa diabaikan banget karena tetep ayah nggak nyari atau nyuruh pulang. 

Jadilah aku memberanikan diri resign dari pabrik buat daftar jadi TKI di sebuah penyalur di Jawa Tengah sana. Sampai suatu hari aku dijemput pihak penyalur, buat tinggal di asrama selama tiga bulanan sebelum terbang ke negara tujuan dan ya, ayahku sakit pas aku di asrama. 

Jadi sebenernya ayah itu orang yang susah ngungkapin rasa sayang. Tapi sebenernya sayang. Bahkan sampai beberapa hari nggak makan ketika aku pergi. Nyesel kan musuhin orang tua sendiri. 


Sekarang ya ginilah jadinya aku, selalu berusaha untuk terlihat sambil memerangi diri sendiri. Pamer hal sederhana, nggak penting, narsis, pokoknya ingin menjadi orang yang punya karya dan diperhitungkan keberadaanya.

"Di dunia ini ada dua tipe manusia, yaitu mereka yang pantas dilihat dan mereka yang ingin terlihat."
pastinya aku tipe ke-dua, setidaknya untuk saat ini.



Saturday, 9 February 2019

[FIRST IMPRESSION] WARDAH SUNSCREEN SPF 30

Hallo, Gorgeus!

Seluruh penduduk bumi sudah kenal akan produk ini. Sejujurnya juga aku mungkin punya pulahan atau belasan kesempatan untuk memilikinya yang sayangnya tidak kumanfaatkan.

Karena baru ketika usia mendekati 28 inilah aku pada akhirnya, ya setidak-tidaknya memutuskan untuk melakukan hal baik dengan membeli dan memakai produk ini. What a wonderful decision!

Salah satu alasan mengapa aku nggak punya benda ini sejak kemarin dulu adalah karena aku rasa nggak gitu penting lah ya. Tapi ternyata penting. Akukan biasa bermasalah dengan flek di pipi kiri, ya itu bisa jadi karena efek buruk sinar matahari.

Makin insaflah aku ketika nonton video tentang sunscreennya Mas Hansol jadi ya, gitulah pada akhirnya aku mau punya ini. Yaitu siapa lagi kalau bukan Wardah. Eh, menurut aku Wardah adalah salah satu brand terfavorit di Indonesia. Tapi kamu boleh nggak setuju samaku.

Nggak seperti yang biasa terjadi, kali ini dusnya masih ada dong. Aku sengaja menyimpan dia, yeaay! Aku beli ini di Daun Mas Cosmetics, seharga 31 ribu tapi dia gede dong, 40ml. Karena dia kan akan sering dipake yakan, kalau kecil bahaya. Menurutku ini harganya terjangkau banget.





Oh ya, kalau di kampung yang kayak kampungku gitu, wanita ke ladang ngambil daun singkong, nyari kayu bakar, ngambil apa aja di ladang bukannya bagusnya pakai ini? Hehe. Tapi lupakan, itu masa laluku yang indah.




Tube-nya seperti biasa ala-ala Wardah. Tapi ini benaran gede loh, oh iya udah bilang tadi.





Konsistensinya sendiri menurut aku ringan kayak susu, tapi dia nggak cukup cair untuk berlari. Masih kayak pelembab biasa tapi nggak greasy. Jadi dia itu ketika diaplikasikan ke muka akan meninggalkan sedikit kesan lengket sebelum meresap sempurna. Bagus ya? Wanginya sih, mirip wangi lidah buaya, tapi ringan banget kalau nggak diendus-endus ya kayak nggak wangi gitu.




Nah, ini ketiak dioles di tangan ya, jadinya agak ada efek putihnya. Itu karena kulit tangan aku gelaaaaap banget. Kayaknya bagian kulit yang paling gelap ada di tanganku. Jadi antara tangan dan wajah itu bener-bener beda jauh. 

Meskipun muka aku juga bukan muka yang secara umum bisa dianggap terang. Cuma gini, uhm, tangan aku kan dulu ketika masih muda sering diguna untuk ngendarai motor tanpa sarung tangan. Jadi akutuh merasa sensor tangan ke aksel motor tu berkurang kalau pakai sarung tangan. Takutnya ngegas pol-polan gitulah nggak terkontrol, akhirnya ya udahlah biarkan saja terbakar.

Nah, hal itu nggak serta merta pulih ketikaku udah tua, meskipun udah jarang naik motor. Ya, mungkin karena akunya memang cuek aja. Nah, aku jadi berpikir baiknya sunscreen ini buat punggung tangan juga yakan siapa tau gitu bisa agak cerahan.

Karena surpraisingli muka aku jadi cerahan apalagi kalau bangun tidur berasa banget cerahnya. Ya mungkin karena nggak terlalau kebakar matahari setelah pakai ini. Jadi ya, semoga membantu dan sampai jumpa.....

Wednesday, 6 February 2019

Rumah Merah

RUMAH MERAH




pixabay.com



Ananda sudah beberapa hari rewel akibat deman yang tak kunjung turun. Suhu tubuhnya seperti kedelai peraman kedelai yang telah dicampur ragi, hangat mendekati panas. Langkah berobat ke tenaga kesehatan pun tak membuahkan hasil nyata selain dari tidur yang sekejap-sekejap saja.


Aku sudah teramat lelah, ketika masa kerja eh salah, masa pengabdianku tidak bisa ditunda barang sehari dua untuk fokus mengurus ananda yang kini usianya masuk bulan ke 11. Tubuhnya mulai berbobot dan cukup membuat tanganku pegal linu, terlebih ketika dia menangis sambil meronta-ronta.


 Makanan untuk keluarga, kenyamanan rumah, pakaian bersih merupakan hal wajib yang harus aku hadirkan setiap hari, tak terkecuali. Tidak peduli warna angka di kalender. Sementara lelakiku, tidak boleh berharap banyak padanya. Aku tidak menyalahkan sepenuhnya, karena dia dididik dalam suatu keadaan di mana orang-orang berprinsip bahwa laki-laki harus dilayani dan gender lainnya sebagai pelayannya.


Berhari-hari menangis, membuat badan ananda menipis. Hal itu menimbulkan kekuatiran bagi kami beserta keluarga besar. Salah satu kakak kami menyarankan agar membawa ananda berobat ke orang pintar yang ada di luar kota.

Sunday, 3 February 2019

Tips Memilih Training Cup Untuk Ananda Bersama Baby Safe


Hallo, Gorgeous!
Selamat datang di Arwen's Diary. Seperti namanya yaitu diary pasti isinya nggak jauh-jauh dari curcolan sehari-hari. Ya peinting nggak penting gitulah. Hehe. Penting buatku, karena aku merasa butuh dan perlu. Nggak penting bagi yang nggak menganggap penting. Ya tergantung dari kacamata mana dilihat, ups!

Karena mau tidak mau, percaya nggak percaya, yakin atau nggak yakin, believe it or not, di dunia ini ada dua tipe manusia berdasarkan visibiliatasnya. Pertama, orang yang memang perlu untuk dilihat entah karena menginspirasi, kreatif, inovatif, berprestasi, dll. Ke-dua, orang yang ingin terlihat, menunjukkan diri mencoba ke permukaan, mencoba banyak hal agar terlihat. Sampai sini, aku mungkin tipe ke-dua. But, It's okay. Tiada yang salah untuk berusaha mengaktualisasikan diri asal tidak melanggar hukum dan norma yang berlaku, cieee.....

Kali ini aku ingin sedikit berbagi tips eh kiat-kiat memilih training cup untuk ananda. Pertama-tama pastikan dulu anandanya ada, karena kalau belum ada ya masa mau menganandakan diri sendiri. Nah, kalau ananda teman atau saudara boleh-boleh aja, asal konsultasikan sama ortunya dulu ya, Sis.

Tuesday, 29 January 2019

Oriflame The One Colour Stylist Lipstick Sweet Berry Review

Hallo, Gorgeous!

Jumpa lagi ya sama Arwen. Kali ini aku mau sedikit cerita mengenai pemulas bibir lagi. Tapi sebelum itu, simak dulu dong sekelumit keluh kesahku sebagai tukang nge-blog yang nyambi jadi ibu rumah tangga. 

Yang namanya ibu-ibu ya pastilah nggak jauh-jauh dari kegiatan bebersih, masak, momong, mmmmmmmm, MasyaAllah Tabarakallah... Nah, biasanya nih, aku akan menunda untuk melakukan kerja rumah ketika ada ide yang harus dieksekusi. 

Misalnya ketika ada ide bercerita dan ada hasrat untuk nulis. Ya yang penting udah ngopi atau sarapan langsung tak-tik-tuk ngetik entah itu di hepi maupun di lepi. Jadi nggak heran kalau misalnya jam 11 siang baru terdengar suara srang-sreng dari dapurku.

Nah, suatu ketika, aku bertekad untuk membereskan semua pekerjaan dulu, baru mulai nulis. Diawali dengan memandikan ananda sambil naruh beras di atas kompor. Lanjut, mindahin nasi aron ke kukusan setelah itu nyuci.

Sunday, 27 January 2019

Emina Creamatte Chocolava Review dan Celoteh Pertemanan

Hallo, Gorgeous!

Happy Weekdays. Bukan hanya akhir pekan yang perlu dirayakan, awal pekan pun sama. Setidaknya begitulah kalau kata teman-temanku yang bekerja sebagai freelancer. Ya aku ikut aja. Meskipun bagiku semua hari nyaris sama, cuma bedanya kalau Sabtu-Minggu mau aja ikut bermalas-malasan.

Kalau teman-teman pernah atau sedang berkomunitas dengan ibu-ibu pebisnis, emak-emak penulis, pasti tau deh betapa semangat dan ketegaran itu bisa nular. Aku pun merasa sering tertular semangat oleh mereka. Itulah makanya penting bagi kita untuk memilih teman.

Teman, kok pilih-pilih?

Pada awalnya mungkin kita berpikir demikian. Tapi lambat laun kita akan paham bahwa ada teman yang membuat kita lelah, membuat kita drama, membuat kita meratapi nasib, wah itu bahaya. Aku pernah ditegur seseorang ketika mengatakan kita harus memilih teman, katanya semua orang di mata Tuhan itu sama, jadi kita nggak berhak untuk memilih teman.